“People demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use”. Kalimat Soren Kierkegaard itu adalah doktrin wajib bagi seluruh mahasiswa yang mengambil konsentrasi Media Studies di tempat saya mendapatkan gelar sarjana saya. Belajar bagaimana liciknya media massa menyaring dan menyingkirkan informasi yang menurut mereka berlawanan dengan kepentingan kapitalis tapi berteriak nyaring, mengakui bahwa apa yang mereka tunjukkan adalah realitas, di akhir studi, kami menjadi orang-orang yang tidak mempercayai media massa. Media massa tidak hanya membatasi ‘kebebasan berbicara’, tapi juga berusaha membelenggu ‘kebebasan berpikir’; berusaha menyebarkan sudut pandang yang seragam yang pada akhirnya mematikan kebebasan berpikir khalayak. Dan sejak tahun ketiga saya di program S1, saya mengabaikan istilah ‘kebebasan berbicara’ dan mulai berpikir lebih banyak tentang ‘kebebasan berpikir’.
John Halt adalah salah seorang pioner yang berusaha memasukkan pendidikan dalam Deklarasi Sedunia tentang Hak Azasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut Halt, ‘freedom of learning’, dengan kata lain, pendidikan, adalah bagian dari kebebasan berpikir manusia, hal yang jauh lebih penting dari ‘kebebasan berbicara’. Jadi pendidikan adalah hal yang bisa menjawab pertanyaan saya tentang ‘kebebasan berpikir’. Dan sekali lagi, corgito ergo sum, ‘aku berpikir, maka aku ada’- pop culture-nya Descartes jadi salah satu justifikasi bahwa semua orang harus mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu saya mendapat email tentang tawaran menjadi tutor di Universitas Terbuka Indonesia di Korea. Universitas Terbuka ya, membaca nama ini mengingatkan saya pada University of Phoenix, universitas di Amerika Serikat yang menawarkan pendidikan online bagi mahasiswa-mahasiswanya yang sebagian besar adalah kaum pekerja. Berbekal idealisme yang dirangkum Halt tadi, dan keinginan untuk menghabiskan hidup saya di universitas, saya mencoba mendaftar menjadi tutor di universitas tersebut. And I got the job! Sekadar informasi, akademisi yang populer lewat bukunya ‘The Clash of Civilization and the Remake of World Order’, Samuel Huntington mulai mengajar di universitas saat usianya 23 tahun. So do I!! Seperti itulah yang saya rasakan.
Tapi jauh dari yang selama ini saya bayangkan tentang mengajar di universtias, tidak ada ruang kelas, tidak ada mahasiswa di hadapan saya. Di awal mengajar saya harus berbicara sendiri di depan komputer di mana mahasiswa-mahasiswa saya mendengarkan siaran secara langsung (ataupun tertunda) di manapun mereka berada. Seperti di University of Phoenix, seluruh mahasiswa saya adalah pekerja. Dan dasar kesombongan elitisme dalam diri saya, kita, mungkin juga sebagian besar dari kita, berkata, ciih, online learning seperti ini mana mungkin bisa menyamai pengajaran tatap muka di ruang kelas di universitas-universitas kelas satu?
Begitulah pikiran bodoh saya sampai salah seorang profesor saya, John Palmer, visiting profesor dari Colgate University, bercerita tentang bagaimana para pekerja yang punya semangat belajar luar biasa dan mampu membagi waktu antara bekerja dan kuliah di University of Phoenix itulah yang menggerakkan perekonomian Amerika Serikat. Bahwa orang-orang yang bekerja dan punya kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan skill mereka itulah yang dibutuhkan masyarakat untuk terus bergerak. Dan pikiran picik saya dan sebagian besar di antara kita itu jadi seperti subjek bersalah yang ditunjuk McCartyism, bahwa yang sebenarnya menyebarkan mitos elit dan non-elit justru adalah mereka yang tumbuh dengan sendok perak (dalam kasus saya mungkin bukan perak, tapi tembaga) di mulut mereka; orang-orang manja berpikiran sempit.
Mahasiswa-mahasiswa saya itu bukan orang-orang yang sejak muda bisa bermimpi untuk kuliah di universitas terbaik di negerinya. Bukan seperti anak-anak SMA kebanyakan yang pusing memilih universitas apa yang akan mereka masuki nantinya. Bukan orang-orang dengan banyak waktu luang sehingga bisa membaca buku-buku sambil menikmati udara sore. Mereka memilih untuk membanting tulang demi keluarga mereka. Dan ketika mereka bekerja keras siang dan malam, itu artinya perekonomian dunia terus bergerak.
Membaca di perpustakaan di sore hari, menulis tiga paper dalam sebulan, datang kuliah tepat waktu, dan mengerjakan semua tugas kuliah dengan sempurna− hal yang dilakukan mahasiswa ‘normal’−, mereka mungkin tidak punya waktu untuk melakukan semua itu. Tapi dengan sebagian besar waktu tersita untuk bekerja, mereka yang juga punya semangat besar untuk meraih ilmu (atau sekadar meraih gelar sarjana), siapa yang berani menyebut mereka bodoh.
Dan tidak adil rasanya penggolongan antara elit dan non-elit, ‘pelajar’ dan ‘TKI’ mengingat sama pentingnya peran keduanya (kalau tidak lebih penting yang belakangan) untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7 % di tahun 2011, seperti yang diramalkan KADIN (Kamar Dagang dan Industri) (Xinhua News, 2011). Dan berbicara tentang penggolongan seperti ini, mungkin kita harus mulai dari mailing list Perpika kita yang disadari atau tidak menciptakan dikotomi antara mahasiswa dengan pekerja. Seperti kaca yang sulit ditembus berbagai aspirasi dan informasi yang datangnya dari grassroot.
Jadi benar adanya bahwa kebebasan berbicara adalah mitos, ya?
Semoga makin banyak yang peduli dengan kepastian kebebasan berpikir A.K.A pendidikan bagi semua.
Cheers.
bagus banget na! wish i had the ability to think and to write like you! *still workin'on in!hwaiting!
ReplyDeletegw suka banget bagian ini:"Bahwa orang-orang yang bekerja dan punya kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan skill mereka itulah yang dibutuhkan masyarakat untuk terus bergerak." sooo true!!!
keep up the good work! :)
Ayo, Ami juga kapan nulis di sini...hihi
ReplyDelete