Oleh: Deddy Prasetyo
1. Korea, Daejon dan Warga Negara Indonesia (WNI)
Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Korea Selatan jumlahnya cukup besar. Berdasarkan informasi dari KBRI Seoul, tidak kurang 30,000 WNI bermukim di negeri ini. Mereka terdiri dari para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), pelajar atau mahasiswa, staf KBRI ,dan selebihnya adalah individu-individu yang mempunyai urusan di Korea Selatan ,baik untuk kepentingan bisnis, pariwisata, penelitian dan sebagainya. Mayoritas WNI di Korea Selatan berprofesi sebagai tenaga kerja, disusul oleh mahasiswa. Puluhan ribu Tenaga Kerja Indonesia tersebar di berbagai wilayah di Korea Selatan dan bekerja di berbagai jenis sektor industri. Salah satu daerah yang menjadi penyebaran para Tenaga kerja Indonesia adalah kota Daejeon. Daejeon yang merupakan salah satu kota terbesar di Korea Selatan mempunyai jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Incheon, Daegu ataupun Pusan. Hal ini dikarenakan Daejeon tidak dijadikan kota industri melainkan kota riset dan teknologi.
2. Kolaborasi Komunitas Indonesia dan Non-Indonesia untuk Pendidikan TKI di Daejon
Minimnya jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Daejeon tidak membuat surut semangat individunya untuk berkreasi dan mengembangkan diri.Dengan latar belakang yg hampir sama,sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu para TKI di Daejeon membentuk suatu komunitas agar bisa mengembangkan diri dan berkreasi.Wadah tersebut diberi nama “Ikatan Muslim Indonesia Daejeon” atau IMNIDA. Walaupun organisasi ini bercorak keagamaan tetapi aktivitas maupun program-programnya banyak melibatkan komunitas yang lain. Pada dasarnya organisasi ini terbuka untuk setiap Warga Negara Indonesia di Korea Selatan. IMNIDA mempunyai berbagai macam departemen yang mengakomodasikan berbagai macam kegiatan masyarakat Indonesia di Daejeon. Salah satu departemen yang mempunyai banyak program kerja adalah Departemen Pendidikan.
Untuk mengakomodasikan kebutuhan pelayanan pendidikan kepada para pekerja di Daejeon yang rata-rata berpendidikan SLTA atau sederajat. Departemen ini mempunyai banyak sekali kegiatan yang diadakan setiap minggunya.Beberapa kegiatan tersebut antara lain ; kelas belajar membaca Al-Quran untuk anak-anak , kursus Bahasa Korea , Kursus Bahasa Inggris, sebagai fasilitator kegiatan Jurusan Bahasa Inggris Universitas Terbuka (UT) di Daejeon dan kursus komputer. Beberapa kegiatan tersebut dilakukan di dalam Mushola Annoor yang merupakan pusat kegiatan IMNIDA, tetapi ada juga kegiatan yang dilakukan di luar Mushola Annor.
Salah satu kegiatan yang dilakukan di luar Mushola Annoor adalah kursus komputer.IMNIDA menggandeng Daejeon International Community Center (DICC) sebagai salah satu tempat kegiatan.DICC mempunyai fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang berbagai kegiatan IMNIDA. DICC merupakan lembaga non profit di bawah pemerintahan kota Daejeon untuk membantu warga asing yang tinggal di Daejeon.Keanggotaan DICC terbuka bagi semua warga asing yang tinggal di Daejeon agar mereka lebih mudah dan bisa menikmati kehidupan di Korea Selatan, khususnya di Daejeon. Dibawah kepemimpinan Mr. Choi selama lebih dari 5 tahun, DICC banyak melakukan berbagai macam kegiatan di bidang pendidikan, diantaranya : kursus bahasa Korea , kelas mengenal kebudayaan Korea, kursus memasak dan lain sebagainya. Disamping kursus computer, kegitan belajar bagi mahasiswa UT jurusan bahasa Inggris juga dilakukan di DICC pada setiap akhir bulannya. Kepedulian pihak DICC dan antusiasme para Tenaga Kerja Indonesia inilah yang membuat Ibu Aulia Djunaedi beserta salah satu tutor bahasa Inggris Universitas Terbuka yang tinggal di luar Daejon rela menempuh perjalanan jauh untuk membagikan ilmunya kepada kami. Keberadaan DICC sendiri sangat banyak membantu kegiatan yang dilakukan IMNIDA maupun masyarakat Indonesia, khususnya di Daejon.
Selain DICC, ada beberapa lembaga sosial kemasyarakatan di Daejeon yang fokusnya adalah membantu para pekerja asing di Daejeon. Kami sering menyebutnya Shelter. Pada umumnya shelter ini didirikan oleh pihak gereja di korea untuk membantu para pekerja asing yang mendapatkan permasalahan di Korea Selatan, baik budaya, bahasa sampai ke permasalahan hukum. Selain didirikan oleh pihak gereja , banyak pula dari shelter-shelter ini didirikan oleh individu-individu yang perduli terhadap pekerja dan ada pula yang didirikan oleh partai politik. Terlepas dari latar belakang berdirinya,ternyata shelter ini banyak membantu warga asing khususnya pekerja Indonesia di Daejeon, mulai dari pelayan kesehatan, pendiikan sampai bantuan hukum terhadap para pekerja asing di Daejon. Dengan adanya shelter ini banyak memberikan manfaat bagi WNI di Daejeon khususnya tenaga kerja Indonesia.
Disamping DICC dan juga shelter ,para mahasiswa Indonesia yang ada di Daejeon juga banyak membantu kegiatan-kegiatan IMNIDA di Daejeon.Mereka tergabung di dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA).Para mahasiswa Indonesia di Daejeon tersebar di berbagai universitas terkenal di Daejeon, antara lain ; KAIST,Chungnam National Univesity,Daejeon University,Woosong University,Solbrige,Hannam University dan juga beberapa lembaga riset di Daejeon.Sebagai contoh kegiatan yang banyak dibantu oleh para mahasiswa antara lain kursus komputer, Bapak Aris Susanto (mahasiswa KAIST) sebagai pengajarnya. Ibu Dewi (mahasiswa Chungnam National University ) sebagai guru mengaji anak-anak ,dan juga Bapak Ony Jamhari (Dosen Solbridge, Wusong University) yang selalu aktif dalam setiap kegitan yang dilakukan oleh IMNIDA. Dalam setiap kegiatannya IMNIDA selalu berusaha melibatkan setiap WNI di Daejon termasuk mahasiswa.
3. Sinergi Formal TKI, Mahasiswa dan Pemerintah
Kedepannya kami sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Korea, khususnya di Daejon, mengharap kepada pihak pemerintah dalam hal ini KBRI, untuk lebih berperan aktif. Bukan kami tidak senang menerima bantuan dari komunitas sosial di Korea seperti dari DICC atau shelter. Mereka amat besar sekali perananya dalam membantu kami selama ini. Misalnya saja penyelenggaraan kelas dan segala fasilitasnya yang diberikan DICC untuk operasional Universitas Terbuka di Korea. Namun kami merasa lebih bangga apabila pemerintahlah yang menjadi shelter kami (kata shelter dipungut dari Bahasa Inggris yang artinya adalah tempat berlindung) dan mendukung pendidikan formal ini. Sebagai gantinya, kamipun siap jika diminta untuk membantu program-program pemerintah di Korea Selatan ini. Baik yang berkaitan dengan bidang sosial, kebudayaan, pendidikan dan sebagainya sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kami.
Kami juga sebenarnya tidak ragu untuk bekerja sama secara resmi dengan pihak mahasiswa di Korea ini yang diwakili oleh PERPIKA. Sangat disayangkan bagi sebagian mahasiswa yang mempunyai pemikiran negatif terhadap para TKI. Janganlah predikat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selalu dikaitkan dengan hal-hal yang negatif ataupun hal-hal selalu ketinggalan jaman. Namun kami rasa pemikiran ini tidak berlaku untuk semua mahasiswa. Secara individu, tidak jarang mahasiswalah selalu menjadi tulang punggung penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan.
Bagi rekan-rekan TKI, kami harapkan juga untuk berpartisipasi dalam kegiatan kependidikan yang ada. Janganlah waktu kita di Korea selama ini kita habiskan di pabrik saja. Luangkanlah sejenak waktu dan tenaga kita yang sedikit itu untuk mengembangan diri kita. Kita sendirilah yang nantinya akan merasakan manfaatnya seusai kita lepas dari negeri ginseng ini. Kamipun juga ingin menginformasikan bahwa walaupun kegiatan kependidikan diawaki oleh pengurus Mushola Annoor, namun program ini terbuka bagi WNI seluruh kalangan tanpa mengenal suku, ras, agama maupun latar belakang lain.
Kami yakin, jika sinergi TKI, mahasiswa dan pemerintah bersifat formal (Paguyuban TKI, PERPIKA dan KBRI), maka bukan hanya TKI saja, tapi semua pihak termasuk mahasiswa dan pemerintah akan memperoleh manfaat yang sangat besar. Kami rasa baik pekerja, mahasiswa ataupun profesi yang lain mempunyai potensi yang sama tergantung bagaimana cara mengasahnya untuk memajukan bangsa ini, yaitu bangsa Indonesia.
Beri kami kesempatan!
----
Deddy Prasetyo
Jurusan Bahasa Inggris Universitas Terbuka Korea Selatan
No comments:
Post a Comment